Tepat jam lima pagi.
Saya bergegas mempersiapkan beberapa potong pakaian, laptop, sarung tangan, dan semua gadget yang biasa menyertai keberadaan saya. Setelah itu semua barang bawaan saya masukkan kedalam tas yang sebelumnya sudah hampir penuh terisi pakaian istri dan kedua anak saya.
“Isuk-isuk kok wis arepe lungo, mudik po piye?” tanya Pak Ran sambil mengisi udara pada ban depan sepeda motor saya. Cukup dengan sedikit senyuman, saya jawab pertanyaan tersebut.
“Sing ati-ati yo”, ucapnya sambil menerima selembar uang ribuan dari istri saya.
“Nggih pak, matur nuwun”. Sebagai jawaban atas rasa terima kasih saya kepada Pak Ran yang telah bersusah payah membantu saya walaupun bengkelnya belum buka.
Sepeda motor bergerak dengan setumpuk beban. Dua buah tas berada di depan, saya, gilang, galuh dan istri saya.
“Aduh-aduh…”
“Ngopo le?”
“Sesek”
Demi lebaran, demi mudik, maju terus..!! Pantang mundur..!!
Walaupun dengan duduk secara terpaksa berhimpitan, sepeda motor ku pacu lebih kencang.
Sepanjang perjalanan, lalu lalang kendaraan bermotor sangat padat sekali. Hampir semua sepeda motor terdapat tas besar dengan dua penumpang dewasa dengan satu atau dua anak. Namun demikian sepintas terlihat sekali akan kegembiraan yang tersirat di wajah “teman-teman seperjalananku” kulihat sebagian dari mereka di pompa bensin.
Sepintas teringat pada lebaran tahun kemarin. Saat itu saya terdampar di Terminal Arjosari gara-gara JENI yang selesainya terlalu mepet dengan Idul Fitri, atau beberapa tahun yang lalu ketika saya harus pulang dari Jogja dengan kereta api ekonomi.
Itulah sepenggal potret nyata dari budaya kita yaitu “mudik”.
Memanglah pada hakikatnya mudik merupakan budaya yang telah mendarah daging ke masyarakat kita. Ingat pepatah kuno “Mangan ra mangan si penting kumpul”.
Kiranya pepatah yang dulu di publikasikan secara besar-besaran sebagai kalimat sakti (sindiran) dalam mencapai kesuksesan program transmigrasi, sekarang ini diinterprestasikan dengan gaya yang berbeda. Banyak perantau, rela mengeluarkan uang yang telah ditabung sedemikian lama hanya untuk bertemu dengan saudara atau sanak family.(ya… paling lama seminggu atau dua minggu)
Adalah suatu kebanggaan pada saat bersilaturahmi, aku membawa kesuksessan yang telah kuraih. Banyak hal yang nantinya dapat kutunjukkan atau minimal kuceritakan dengan bangga kepada mereka. Ini lho aku sekarang. Beda tho dengan tahun kemarin.
Sengaja atau tidak sengaja saya yakin sekali anda pernah menjadi “aku”.
Memang tidak jelek kita menunjukkan keberhasilan kita pada orang lain, namun pernahkah anda berpikir bahwa si “aku” merupakan sesuatu yang merupakan noda hitam dari selembar kertas putih yang disebut silaturahmi?
Bagaimana pendapat anda?
Mudik? Kenapa nggak?
02 October 2008
Labels:
Cangkru'an
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

Comments :
Post a Comment